Pagi ini saya menemukan sebuah judul menarik di profil facebok seorang teman.
Isinya adalah sebuah uraian yang cukup panjang mengenai betapa mengerikannya siksaan sakaratulmaut. Sehingga begitu menakutkan untuk dihadapi bagi para pendosa. Berlainan dengan mereka yang “ahli-surga”, di mana kematian menjadi saat yang dinanti-nantikan. Karena kematian adalah saat yang sangat membahagiakan. Saat menjelang makhluk akan menemui Khaliknya.
“Ahli Surga” menjalani sakaratul maut ini dengan sangat tenang.
Tulisan-tulisan demikian selalu memukau.
Semakin kaya imaginasi Sang Penulis, semakin nyata rasanya uraian seluk-beluk perihal kematian, sakaratul maut dan akhirat ini. Apalagi kalau tulisan ini dilengkapi pula dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sederetan nama-nama yang luar-biasa Arabnya!
Kitapun segera terhanyut dan kemudian tidak mampu kritis dan menyadari lagi, bahwa tulisan semacam ini, lepas dari kesahihan sumber-sumber berita yang dikutip oleh penulisnya, adalah semurni-murninya sebuah karangan. Sebuah fiksi. Bukan karya tulis ilmiah yang harus bisa diuji dan dibuktikan kebenarannya.
Imaginasi.
Khayalan.
Bukan suatu reportase yang bisa dikonfirmasi kebenarannya.
Karena tidak ada seorangpun sumber berita maupun penulis yang pernah mengalami sekarat, apalagi sampai bertemu malaikat-malaikat yang manapun. Yang pernah mengalami pergi ke akhirat dan kembali lagi untuk kemudian menuliskan pengalamannya.
Sebagaimanapun meyakinkan dan memukau tulisan para pengarang ini, pengetahuan mereka mengenai sakaratulmaut, malaikat-malaikat apalagi akhirat sebetulnya tidaklah lebih baik daripada kita-kita yang kemudian membaca karya-tulis mereka.
Paling banter itu hanyalah merupakan rekaan penulis ini setelah pernah menyaksikan orang sekarat menjelang meninggal dunia. Yang mungkin tampak begitu payah dan menderita menghadapi kematian, sementara orang sekarat yang lain yang juga menghadapi kematian tampak begitu tenang menjelang tarikan nafas terakhirnya.
Mereka sama tidak tahunya dengan kita para pembacanya mengenai sakaratulmaut, kematian dan akhirat!
Tidak lebih.
Tidak kurang!
Kalau kita mau memakai analogi yang tampak absurd tapi samasekali tidak mungkin dapat disangkal kebenarannya, dalam melakukan kegiatan sexpun, seorang yang mengalami orgasme yang luar-biasa indah dan nikmatpun akan tampak seperti orang yang bukan main tersiksa dan kesakitannya!
Apalagi di mata mereka yang belum pernah mengetahui apa itu hubungan sex yang suci dan sakral. Yang belum pernah betul-betul mengalami apa itu orgasme!
Sementara mereka yang menjalani kegiatan sex dengan tenang adem-ayem dan tenteram bahkan saat mencapai puncaknya orgasme, besar kemungkinan sebetulnya amat-sangat tidak sukses menjalani ritual yang suci ini.
Sebelum ada yang marah dan tersinggung karena metafora yang saya pakai sebagai analogi adalah sex, mohon difahami bahwa SEX yang saya pakai buat referensi ini BUKAN yang sampai harus diatur dan dijaga oleh UU Anti Pornografi. Bukan sex yang dikerjakan dan dilakukan bebas dengan pasangan yang mana saja. Sama sekali bukan sex yang bisa dijajakan di mana saja!
Sex yang saya sebut adalah karunia paling tinggi yang Allah anugerahkan bagi makhluknya. Bentuk komunikasi yang paling tinggi dan sakral di antara dua makhluk manusia yang saling mencinta, saling menghormati dan menghargai. Yang dilakukan dan dipraktekkan HANYA antara dua makhluk yang spesial itu saja. Yang TIDAK AKAN MUNGKIN dilakukan dengan siapa saja selain pasangan spesial yang menjadi pilihan hidupnya itu. Yang menjadi belahan jiwa. Yang menjadi sambungan hidup.
Itulah sebabnya, sejak lama sekali tulisan-tulisan, khotbah, uraian maupun diskusi yang isinya hanya menyelidiki dan mengeksploitasi ketakutan akan rasa kesakitan dan kepedihan dalam kaitannya dengan ritual agama tidak pernah lagi menarik perhatian saya.
Sepanjang pengamatan dan pengetahuan saya, keshalehan dan ketaqwaan seseorang yang didasari oleh rasa takut mendapatkan hukuman dan kesakitan rasanya patut dipertanyakan ketulusannya.
Apa yang terjadi kalau ancaman ketakutan dan kesakitan itu tidak ada? Kalau ancaman itu dihilangkan?
Akankah manusia “saleh” itu tetap baik dan bertaqwa? Akankah manusia itu akan tetap menjadi sabar, sholeh dan taqwa seperti kalau setiap saat, setiap gerak diiming-imingi pahala dan kalau salah diancam dengan hukuman yang luar-biasa berat?
Kalau iman kita memang cukup tebal. Kalau pengetahuan kita mengenai agama memang memadai. Kalau kita sudah betul-betul meyakini kepercayaan kita. Kalau kita betul-betul percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita mengakui segala Kebesaran dan KeagunganNya. Serba Maha Serba Tiada TandingNya. Kalau betul-betul kita mencintaiNya.
Maka tidak akan ada rasa takut.
Tidak diperlukan ancaman.
Tidak perlu menakut-nakuti.
Karena cinta dan ancaman tidaklah mungkin akan bisa bekerja-sama. Tidak mungkin ada cinta dengan disertai ancaman. Menghukum karena sayang adalah gombal yang dislogankan oleh orang-tua jaman dulu. Retorika suami-suami gombal terhadap isteri yang diselingkuhinya.
Demikian juga, Allah yang kita sebut sebagai Maha Pengasih dan Penyayang 44 (empatpuluh empat ) kali sehari semalam dalam shalat yang lima waktu tidaklah mungkin merupakan satu Dzat tuhan yang penghukum.
Itu adalah strategi para pendakwah kelas biasa-biasa untuk mendapat perhatian dari yang didakwahinya. Yang tidak punya jurus lain untuk menarik minat ummat sasarannya.
Setelah empat belas abad, sudah waktunya strategi gombal ini kita tinggalkan. Dan memulai tradisi dakwah yang lebih cerdas.
Pamulang, 7 Januari 2010.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 1 Komentar »