• UMUM

SAKARATUL MAUT.

Pagi ini saya menemukan sebuah judul menarik di profil facebok seorang teman.

Isinya adalah sebuah uraian yang cukup panjang mengenai betapa mengerikannya siksaan sakaratulmaut. Sehingga begitu menakutkan untuk dihadapi bagi para pendosa. Berlainan dengan mereka yang “ahli-surga”, di mana kematian menjadi saat yang dinanti-nantikan. Karena kematian adalah saat yang sangat membahagiakan. Saat menjelang makhluk akan menemui Khaliknya.

“Ahli Surga” menjalani sakaratul maut ini dengan sangat tenang.

Tulisan-tulisan demikian selalu memukau.

Semakin kaya imaginasi Sang Penulis, semakin nyata rasanya uraian seluk-beluk perihal kematian, sakaratul maut dan akhirat ini. Apalagi kalau tulisan ini dilengkapi pula dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sederetan nama-nama yang luar-biasa Arabnya!

Kitapun segera terhanyut dan kemudian tidak mampu kritis dan menyadari lagi, bahwa tulisan semacam ini, lepas dari kesahihan sumber-sumber berita yang dikutip oleh penulisnya, adalah semurni-murninya sebuah karangan. Sebuah fiksi. Bukan karya tulis ilmiah yang harus bisa diuji dan dibuktikan kebenarannya.

Imaginasi.

Khayalan.

Bukan suatu reportase yang bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Karena tidak ada seorangpun sumber berita maupun penulis yang pernah mengalami sekarat, apalagi sampai bertemu malaikat-malaikat yang manapun. Yang pernah mengalami pergi ke akhirat dan kembali lagi untuk kemudian menuliskan pengalamannya.

Sebagaimanapun meyakinkan dan memukau tulisan para pengarang ini, pengetahuan mereka mengenai sakaratulmaut, malaikat-malaikat apalagi akhirat sebetulnya tidaklah lebih baik daripada kita-kita yang kemudian membaca karya-tulis mereka.

Paling banter itu hanyalah merupakan rekaan penulis ini setelah pernah menyaksikan orang sekarat menjelang meninggal dunia. Yang mungkin tampak begitu payah dan menderita menghadapi kematian, sementara orang sekarat yang lain yang juga menghadapi kematian tampak begitu tenang menjelang tarikan nafas terakhirnya.

Mereka sama tidak tahunya dengan kita para pembacanya mengenai sakaratulmaut, kematian dan akhirat!

Tidak lebih.

Tidak kurang!

Kalau kita mau memakai analogi yang tampak absurd tapi samasekali tidak mungkin dapat disangkal kebenarannya, dalam melakukan kegiatan sexpun, seorang yang mengalami orgasme yang luar-biasa indah dan nikmatpun  akan tampak seperti orang yang bukan main tersiksa dan kesakitannya!

Apalagi di mata mereka yang belum pernah mengetahui apa itu hubungan sex yang suci dan sakral. Yang belum pernah betul-betul mengalami apa itu orgasme!

Sementara mereka yang menjalani kegiatan sex dengan tenang adem-ayem dan tenteram bahkan saat mencapai puncaknya orgasme, besar kemungkinan sebetulnya amat-sangat tidak sukses menjalani ritual yang suci ini.

Sebelum ada yang marah dan tersinggung karena metafora yang saya pakai sebagai analogi adalah sex, mohon difahami bahwa SEX yang saya pakai buat referensi ini BUKAN yang sampai harus diatur dan dijaga oleh UU Anti Pornografi. Bukan sex yang dikerjakan dan dilakukan bebas dengan pasangan yang mana saja. Sama sekali bukan sex yang  bisa dijajakan di mana saja!

Sex yang saya sebut adalah karunia paling tinggi yang Allah anugerahkan bagi makhluknya. Bentuk komunikasi yang paling tinggi dan sakral di antara dua makhluk manusia yang saling mencinta, saling menghormati dan menghargai. Yang dilakukan dan dipraktekkan HANYA antara dua makhluk yang spesial itu saja. Yang TIDAK AKAN MUNGKIN dilakukan dengan siapa saja selain pasangan spesial yang menjadi pilihan hidupnya itu. Yang menjadi belahan jiwa. Yang menjadi sambungan hidup.

Itulah sebabnya, sejak lama sekali tulisan-tulisan, khotbah, uraian maupun diskusi yang isinya hanya menyelidiki dan mengeksploitasi ketakutan akan rasa kesakitan dan kepedihan dalam kaitannya dengan ritual agama tidak pernah lagi menarik perhatian saya.

Sepanjang pengamatan dan pengetahuan saya, keshalehan dan ketaqwaan seseorang yang didasari oleh rasa takut mendapatkan hukuman dan kesakitan rasanya patut dipertanyakan ketulusannya.

Apa yang terjadi kalau ancaman ketakutan dan kesakitan itu tidak ada? Kalau ancaman itu dihilangkan?

Akankah manusia “saleh” itu tetap baik dan bertaqwa? Akankah manusia itu akan tetap menjadi sabar, sholeh dan taqwa seperti kalau setiap saat, setiap gerak diiming-imingi pahala dan kalau salah diancam dengan hukuman yang luar-biasa berat?

Kalau iman kita memang cukup tebal. Kalau pengetahuan kita mengenai agama memang memadai. Kalau kita sudah betul-betul meyakini kepercayaan kita. Kalau kita betul-betul percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita mengakui segala Kebesaran dan KeagunganNya. Serba Maha Serba Tiada TandingNya. Kalau betul-betul kita mencintaiNya.

Maka tidak akan ada rasa takut.

Tidak diperlukan ancaman.

Tidak perlu menakut-nakuti.

Karena cinta dan ancaman tidaklah mungkin akan bisa bekerja-sama. Tidak mungkin ada cinta dengan disertai  ancaman. Menghukum karena sayang adalah gombal yang dislogankan oleh orang-tua jaman dulu. Retorika  suami-suami gombal terhadap isteri yang diselingkuhinya.

Demikian juga, Allah yang kita sebut sebagai Maha Pengasih dan Penyayang 44 (empatpuluh empat ) kali sehari semalam dalam shalat yang lima waktu tidaklah mungkin merupakan satu Dzat tuhan yang penghukum.

Itu adalah strategi para pendakwah kelas biasa-biasa untuk mendapat perhatian dari yang didakwahinya. Yang tidak punya jurus lain untuk menarik minat ummat sasarannya.

Setelah empat belas abad, sudah waktunya strategi gombal ini kita tinggalkan. Dan memulai tradisi dakwah yang lebih cerdas.

Pamulang, 7 Januari 2010.

DEBAT 1.

Tahunnya 1968 – 1971. Acaranya setiap hari Kamis mulai pukul 16.00 sore. Tempatnya berpindah-pindah di rumah anggota yang bersedia ketempatan. Selesai sekitar pukul 18.00 atau lebih sedikit.

Saya adalah anggota  yang paling muda. Masih duduk di kelas satu SMA, sementara ini adalah kegiatan anggota “Senior” dari Student Club ‘International’  Bandung yang biasa kami sebut SCI (Es-si-ai).

Anggota yang masih duduk di bangku sekolah menengah sebetulnya adalah anggota “Junior”, yang kegiatan rutinnya ialah berlatih bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris (English Conversation) setiap hari Minggu pagi.

Karena sedikit kelebihan dan nasib garis tangan, kakak-kakak pengurus yang rata-rata mahasiswa senior di berbagai perguruan tinggi di Bandung ini menempatkan saya di Club Senior dari sejak pertama kali mereka mengajak ikut aktif dalam club yang sangat bermanfaat ini.

Selain English Conversation setiap hari Minggu sore, setiap Kamis sore kegiatannya ialah  GD atau Group Dicussion. Kegiatan khusus untuk anggota Senior saja.

Kalau yang hadir cukup banyak, maka hadirin dibagi dalam beberapa grup dengan masing-masing dipimpin oleh satu orang moderator yang diatur bergiliran. Topik yang dibahas sudah dibagikan beberapa hari sebelumnya bersama undangan yang dikirim ke rumah masing-masing. Topik disertai dengan sedikit uraian, synopsis atau latar-belakang dari topik yang akan didiskusikan. Biasanya adalah mengenai hal-hal yang lumrah di kalangan remaja dan dewasa muda. Soal berkencan. Persahabatan. Pertunangan. Konflik. Dan semacamnya.

Pada akhir session, kesimpulan dari masing-masing grup itu kemudian dikemukakan di seluruh hadirin, dan setiap anggota boleh menanggapi dan atau mendiskusikan lagi untuk pada akhirnya disimpulkan sebagai hasil diskusi hari itu.

Idenya adalah untuk belajar berdebat dan berdiskusi. Belajar  mengemukakan pendapat, mendengar dan menyimak pendapat orang, mengolah informasi dan argumentasi lawan bicara, menyanggah atau menyetujui untuk pada akhirnya menemukan solusi yang sedapat mungkin bisa diterima oleh seluruh peserta.

Meskipun diharapkan mendapatkan sebuah kesimpulan yang disetujui seluruh hadirin, perbedaanpun tetap diterima dan ditoleransi.

Kegiatan hampir empat puluh tahun yang lalu itu, rasanya masih melekat erat dalam pikiran saya. Masih saya pakai dalam kegiatan sehari-hari. Belajar mendengar. Menyimak yang dikatakan lawan bicara. Menerima untuk mencernanya. Bertanya kalau belum mengerti. Mengolah. Membandingkan dengan pengetahuan sendiri. Menyanggah kalau tidak sefaham.

Demikian sehingga pada akhirnya masing-masing pihak mengerti persamaan maupun ketidak samaan pendapat masing-masing.

Tidak ada yang merasa kalah. Karena tidak ada juga yang harus menang.

Faham ini mulai terguncang beberapa tahun yang lalu, ketika anak-anak kami sudah menginjak bangku SMA. Ketika untk pertama kalinya saya mendengar istilah “LOMBA DEBAT”

Apa?

Debat diperlombakan? Bagaimana caranya?

Oh, dua kelompok berhadapan. Topik ditentukan.

Melalui undian, ditentukan satu pihak menjadi kelompok pro, yang lain jadi penyanggah. Debatpun bisa dimulai. Pada akhir session, juri menentukan siapa yang menang. Pihak yang pro topik atau penyanggahnya!

Lho?

Ini latihan buat apa?

Adu pintar?

Adu silat lidah?

Menang-menangan?

Apa yang sesungguhnya ingin dicapai dengan ADU DEBAT model begini? Menciptakan manusia-manusia yang pintar berkilah dan berkelit? Pandai memojokkan orang lain? Super ngeyel?

Apa?

Merenungi semua ini, saya merasa sendirian di dunia yang ramai begini

Dalam rangka acara “DEBAT CAPRES” yang baru lalu, ternyatalah memang, saya adalah seorang(atau “seekor”, ya?) dinosaurus.

Para ahli yang pintar-pintar semua berkomentar bahwa DEBAT CAPRES tersebut tidak seru. Itu mah bukan debat, tapi seminar. Karena tidak ada perdebatan. Tidak ada ngotot-ngototan. Semua saling mengiyakan. Saling mendukung.

Ha ha ha ha ha ha haaaaaaa…..

Saya tertawa ketika dr. Lula Kamal yang cantik dalam suatu acara mempertanyakan kok debatnya tidak seperti yang dialaminya dulu di sekolah. Ada topik. Ada yang pro. Ada yang kontra. Lalu berdebat adu pendapat. Saling mempertahankan pendapat masing-masing. Nanti ada yang kalah. Dan yang lain menang!

Rupanya itulah debat masa kini.

Pesaing harus berbeda satu sama lain, meskipun tujuannya sama-sama buat membangun Republik Indonesia. Harus berlawanan, meskipun rakyatnya sama. SDMnya sama. SDAnya sama. Dst.

Pantas kita tidak pernah bisa akur. Tidak pernah bisa bekerja-sama. Selalu mudah diadu-domba.

Dengan kekayaan sumber alam dan manusia yang berkelimpahan, kita tidak pernah berhasil menyatukan visi membangun dan mengolah segala kekayaan karunia Tuhan ini untuk kepentingan bersama.

Karena kita sangat terlatih dan pintar berdebat.

Tidak boleh sama satu dengan yang lain.

Mengakui kebenaran pihak lain artinya kekalahan.

Jadi pokoknya harus beda!

Salam,

 

Iwan

BERKELAHI 1.

“Jangan berkelahi!”

Rasanya setiap anak laki-laki pernah mendengar hardikan seperti ini, terutama di masa kecil dulu.

Berkelahi adalah perbuatan anak-anak nakal. Perbuatan buruk yang harus dihindari. Dst., dst., dst.

Melihat perkembangan apa yang disebut “berkelahi” di tanah-air kita tercinta, pada usia yang sudah menginjak 56 tahun sekarang ini, saya bertanya-tanya, apakah yang para orang-tua dan guru tanamkan di kepala kita selama ini benar adanya? Apakah kita juga mengulangi dan melakukan yang sama pada anak-anak kita?

Terus-terang saya sekarang punya perspektif lain mengenai berkelahi ini.

Sampai meninggalkan bangku kelas enam SD dulu, rasanya berkelahi adalah salah-satu kegiatan anak laki-laki yang mutlak harus dialami. Ditarik lebih jauh lagi, saat sampai kelas dua SD semasa  masih tinggal di lingkungan tangsi tentara dan bersekolah di SD Santa Maria Cimahi, kota yang dikenal sebagai Kota Mesiu dulu itu, berkelahi itu sama sekali BUKAN suatu kenakalan. Melainkan salah satu bentuk pergaulan yang normal dan sehat di antara anak-anak dan remaja.

Di lingkungan kami dulu itu, bahkan anak-anak perempuanpun berkelahi. Supir bis sekolah kami akan mencari tanah lapang dan menghentikan bisnya dalam perjalanan ke dan/atau dari sekolah bila anak-anak sekolah yang diangkutnya meminta karena ada yang mau berkelahi dulu.

Dengan sabar dan tidak ikut campur dia akan menunggu di bis sampai urusan anak-anak itu selesai. Kalau sampai terlambat tiba di sekolah, Pak Supir akan dengan senang hati mengantar dan berbicara dengan Guru atau Kepala Sekolah dan mencarikan alasan supaya anak-anak tetap bisa masuk kelas.

Saat duduk di kelas lima SD, suatu hari ayah pulang membawa dua pasang…… “box handschoen” alias sarung tinju. Mulai saat itu ada kegiatan baru di rumah: Bertinju. Sepulang sekolah kami anak-anak sebaya akan berkumpul di rumah dan bergiliran merasakan kepala berkunang-kunang ketika kena tinju lawan tanding kami.

Sekali-sekali ayah akan datang mengajarkan cara bersiaga, menangkis, mengelak, menepis dan meninju. Jab, hook, upper cut dan lain-lain adalah istilah yang akrab di kuping kami pada saat-saat itu.

Musim bertinju ini tidak lama singgah di kehidupan kanak-kanak kami, karena dengan belum populernya televisi (hanya mereka yang berada yang memiliki pesawat televisi, yang acaranya pun baru dimulai petang hari) dan belum dikenalnya komputer, apa lagi video game, kami kanak-kanak punya sejuta kegiatan ‘outdoor’ yang rasanya tidak cukup kami jalani semua dalam waktu yang hanya 24 jam sehari! Petak umpet, sepak bola, bersepeda, perang anggar, gatrik, galah-asin, dam-daman, main kartu, main gambar apung, berenang, “sorodot-gaplok” (ha ha ha haaa….. saya sudah lupa bagaimana main sorodot gaplok ini!) dan lain-lain.

Semua kegiatan tersebut membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk bertengkar dan berkelahi.

Dengan berkelahi itu kami belajar untuk bersosialisasi. Kami belajar menyelesaikan perselisihan yang ternyata tidak bisa diselesaikan dengan damai melainkan perlu adu kekuatan. Dengan berkelahi itu kami belajar untuk tahu diri. Kalau tidak kuat, harus cerdik. Kalau tidak pemberani, jangan sok jagoan. Kalau bermain, jangan curang. Kalau menang berkelahi, jangan berlebihan. Kalau lawan sudah kalah dan menyerah, segera berhenti berkelahi dan bermainlah kembali.

Kami belajar untuk tahu batas-batas. Kami tahu dan belajar hierarkhi. Mana yang kuat disegani. (Bukan ditakuti.) Mana yang cerdik diakui. Yang lemah dilindungi. Yang curang melulu tidak bakal punya kawan. Demikianlah seterusnya.

Bagaimana keadaan sekarang?

Anak-anak dan remaja sudah tidak pernah lagi berkelahi.

Kata itu kelihatannya perlahan-lahan menghilang dari kamus Bahasa Indonesia. Digantikan istilah baru yang mungkin berasal dari Bahasa Jawa, karena saya tidak pernah mendengarnya sewaktu muda dan masih berbahasa Sunda. Kata baru itu adalah TAWURAN.

Menyaksikan aksi TAWURAN ini, baik pada siaran berita di televisi, maupun dalam kehidupan nyata kalau sekali-sekali terperangkap di antara dua pihak yang sedang TAWURAN ini, saya selalu bertanya-tanya, apa sebetulnya yang sedang dikerjakan oleh anak-anak ini?

Latihan keberanian? Adu kekuatan? Menegakkan kebenaran? Apa?

Di mata saya, TAWURAN adalah murni merupakan pameran adu kepengecutan. Sama sekali tidak ada sifat ksatria yang muncul dari sebuah TAWURAN. Yang ada hanya latihan bersama untuk bagaimana sama-sama  belajar menjadi pengecut.

Yang pengecutnya sedikit, akan maju TAWURAN dengan membawa senjata, untuk menganiaya lawan yang TIDAK bersenjata. Senjatanya ini selalu cukup panjang sehingga bisa dipakai menyakiti dari jauh sementara lawan tidak mampu mencapai badan si pemegang senjata. Dari parang, kelewang, samurai maupun gantar kayu atau bambu yang panjangnya sampai mencapai dua-tiga meter!

Yang pengecutnya lebih banyakan akan memakai batu yang dilemparkan dari jarak cukup aman untuk…..lari kalau lawan mengejar! Yang pengecutnya lebih fatal akan menyiapkan senjata dengan lebih serius: bom molotov! Yang terakhir ini lebih tidak jelas lagi. Maksudnya apa melemparkan bom molotov yang fungsinya untuk menimbulkan kerusakan serius akibat kebakaran!

Berkelahi?

Mana berani?

Salam,

 

Iwan

PERENCANAAN #1.

Hari ini 19 Juni 2009 harian KOMPAS memuat artikel tentang Kemacetan Jakarta yang semakin parah, penyebab dan rencana penanggulangannya oleh Pemda.

Sebetulnya di antara kawan dan sahabat, di milis-milis sudah sering terjadi diskusi mengenai kemacetan ini. Setiap pihak yang merasa ahli di bidangnya gesit melemparkan ide-ide dan seluruh ilmu dan keahliannya untuk menunjukkan di mana letak kesalahan dan bagaimana cara menyiasatinya.

Pada awalnya, merasa sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini, saya juga dengan penuh semangat rajin ikut menyumbang saran dan pikiran dalam diskusi antar kawan ini. Terlebih lagi, di salah satu milis yang saya ikuti juga ada tokoh-tokoh Nasional yang amat-sangat berkompeten dalam penanggulangan kemacetan ini. Satu di antaranya malah sekarang menjadi salah satu deputy Gubernur DKI, khusus untuk menangani masalah lalu-lintas ini!

Tetapi setelah sekian lama mengikuti, dan demikian sering mengalami terjadinya syndrome “ngabuntut bangkong” dalam diskusi para pakar ini, akhirnya saya jadi jenuh sendiri dan malas untuk ikut-ikutan dalam diskusi beginian. (“Ngabuntut bangkong”, dari istilah Bahasa Sunda. Arti harfiah adalah “bersifat ekor kodok”. Yang cukup panjang dibandingkan ukuran badannya ketika baru menetas, tetapi berangsur-lenyap saat sang kodok mendewasa.)

Seperti telah saya singgung sedikit dalam posting terdahulu AROGANSI INTELEKTUAL, demikian jugalah yang terjadi pada diskusi ini. Para pakar ini cuma ribut hanya sekedar memamerkan berapa banyak ilmu yang dipunyai mereka, dan ngotot keukeuh berkutat mempertahankan pendapat penyelesaian menurut versi mereka saja.

Salah satu sahabat, Mas Denny Turner* pernah menulis panjang lebar mengenai ilmu yang disebutnya CIP, Complexity Information Procession. Ini adalah ilmu yang mampu mengukur kebisaan seseorang untuk memproses data informasi yang dipunyainya dan mengolahnya untuk perencanaan selama jangka waktu ke depan. Dibagi dalam 7 strata yang masing-masing terbagi lagi jadi a, b, c dst., maka kemampuan orang dipilah-pilah dari Stratum I sampai VII seperti berikut:

Stratum I – bisa eksekusi 1 hari hingga 3 bulan
Stratum II – bisa eksekusi 3 bulan hingga 1 tahun
Stratum III – bisa eksekusi 1 tahun hingga 2 tahun
Stratum IV – bisa eksekusi 2 tahun hingga 5 tahun
Stratum V – bisa eksekusi 5 tahun hingga 10 tahun
Stratum VI – bisa eksekusi 10 tahun hingga 20 tahun
Stratum VII – bisa eksekusi 20 tahun hingga 50 tahun

Menurut pengamatan saya, seluruh pakar dan pejabat Indonesia yang berkesempatan untuk berbicara, “menerangkan” maupun berdiskusi dalam berbagai kesempatan dan media, diukur menurut skala di atas paling banter berkisar dan berputar-putar CUMA  di kelas Stratum IV, yang hanya mampu berpikir dan berencana di kisaran waktu 2 sampai 5 tahun ke depan dan tidak pernah ada yang lebih dari itu.

Pertama kali mendapatkan “ilmu” ini dari tulisan Mas Denny, saya terheran-heran ketika mencoba-coba menilai debatnya pakar-pakar dan pejabat kita di dalam hal apapun. Karena menurut faham saya amat mustahil orang-orang hebat dan penting itu kok cuma berada pada Stratum IV. Hanya mampu berpikir dalam jangka waktu ke depan sependek itu, cuma 2 sampai 5 tahun SAJA!

Tebak-tebakan saya yang semula samar-samar, menjadi jelas sekali ter-iya-kan pada saat melihat dan mendengar peresmian Jembatan SURAMADU oleh Presiden SBY dan komentar pihak Megawati mengenai itu. Pihak Megawati mengingatkan bahwa jembatan yang sepenting itu menghubungkan Surabaya dengan P. Madura, direncanakan, disetujui dan diinisiasi pembangunannya pada masa pemerintahan Presiden Megawati! Saya tidak tahu apakah SBY mengungkapkan kenyataan itu, juga tidak tahu apakah Megawati diundang pada peresmian tersebut. Tetapi ini semua menerangkan mengapa para cerdik-pandai Indonesia tidak mau berpikir lebih jauh dari Stratum IV meskipun sangat besar kemungkinannya bahwa sebagian besar dari mereka itu sebetulnya punya kemampuan ASLI yang berada di jauh di Stratum VII sana!

Mengapa?

Pengakuan. Recognition. Approval.

Itulah kuncinya!

Bangsa kita yang sudah sangat terbiasa dengan budaya mie instant sudah tidak punya kesabaran untuk menunggu. Ibarat menanam padi, Bangsa kitasekarang  ini kalau menabur benih hari ini, maunya bisa menuai panen besok atau minggu depan!

Bangsa kita juga sudah tidak punya panutan yang mengajarkan sifat kenegarawanan. Kemampuan untuk berkorban TANPA PAMRIH demi Bangsa dan Negaranya. Setiap pengorbanan yang kita lakukan sekarang ini, HARUS ada reward yang instan diperolehnya. Hanya orang bodoh saja yang mau berkorban “demi Bangsa dan Negara” seperti dalam dongeng-dongeng.

Berpikir  dan bertindak dalam kerangka Stratum VII yang berarti berpikir untuk jangka waktu 20 sampai 50 tahun ke depan berarti ketololan. Karena berarti anda menanam suatu kebajikan untuk dipanen dan diakui oleh orang lain yang belum tentu anda kenal. Tetapi SUDAH PASTI tidak akan memberikan medali kehormatannya kepada anda yang lebih berhak karena telah merencanakan dan memulainya DEMI kepentingan orang lain di masa jauh sesudah anda!

Kenyataan seperti inilah yang menyebabkan kita tidak pernah mau untuk membuat sebuah Master Plan, Rencana Induk yang menjangkau jangka waktu jauh ke depan.

Kembali kepada contoh pada awal tulisan ini yaitu masalah kemacetan di Jakarta, tidaklah perlu heran kalau para pejabat dan pakar yang berwenang tidak pernah mampu (atau mau???) melihat akar permasalahan yang sebenarnya. Mereka hanya akan bertindak menanggulangi kemacetan ini dengan membuat proyek-proyek jangka pendek, sependek masa jabatan Gubernurnya,  yang akan menyebabkan uang lebih banyak tercurah ke Jakarta dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Padahal sesungguhnya ITULAH akar masalah kemacetan Jakarta yang tidak akan kunjung selesai sampai akhir jaman : KARENA UANG SELALU DAN SEMAKIN BANYAK BERKONSENTRASI DI JAKARTA.

Menurut hemat saya, untuk menanggulangi kemacetan Jakarta, pembangunan fisik struktur dan infra struktur justru sebanyak-banyaknya harus digiatkan DI LUAR Jakarta.

Percaya tidak?

Salam,

 

Iwan.

* Sobatku Denny Turner sangat aktif di FACEBOOK. Anda bisa mencarinya di sana, dan membaca tulisan-tulisannya yang segar, dalam dan bernas.

MENURUNKAN STANDAR SENDIRI. 1.

1. Pada awal-awal perjuangannya, Ir. Soekarno dikenal sebagai “Boeng” Karno. Panggilan akrab yang mencerminkan kecintaan para pengikut dan pengagumnya terhadap pribadi beliau.

Pada film-film dokumenter, maupun dari cerita-cerita para orang-tua yang sempat menceriterakan pengalaman mereka bergaul dengan Si Boeng ini, terlihat betapa sangat egaliternya Presiden pertama yang menjadi salah satu Founding Father Republik Indonesia Merdeka ini.

Dalam salah satu buku (yang, biasa, selalu saya lupa yang mana, maaf!), instruksi pertama dari Presiden RI pertama segera setelah rapat pemilihan Presiden tersebut ialah k.l. : “Bang, satenya limapuluh tusuk!”. Yaitu ketika beliau duduk di trotoir di pinggir jalan (Gambir?) memesan sate untuk santap malamnya bersama beberapa koleganya yang baru saja rapat bersamanya tadi!

2. Pada malam perpisahan setelah menyelesaikan jabatannya yang kedua, Tokoh-tokoh yang mewakili Masyarakat Betawi menganugerahkan gelar “Bang Ali” kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Raya yang dinilai SANGAT sukses menjadi pemimpin di Jakarta. Inilah contoh ketulusan Masyarakat Betawi yang berterimakasih karena Jakarta yang semula merupakan “Kampung Besar” dalam satu dekade berhasil disulap menjadi sebuah kota metropolitan yang modern, tidak kalah dengan kota-kota besar modern Asia Tenggara yang lain

Pada saat itulah orang-orang “Kampung Besar”  Jakarta itu diajari beliau adab dan sopan santun berkendara di jalan umum. (Beliau pernah menempeleng seorang supir kendaraan besar karena ugal-ugalannya sang supir di jalan raya. Perbuatan yang meskipun banyak diprotes para tokoh yang “sopan” tapi didukung oleh hampir seluruh penduduk Jakarta yang lain!)  Diajari nonton bioskop pakai sepatu, bukan sandal, apalagi sandal jepit. Dilarang membuang puntung rokok sembarangan. Diajari bangga pake batik. Mempelopori pakai kemeja batik pengganti jas sebagai pakaian resmi. Memimpin kontingen dan ikut parade atlet di PON. Dan banyak banget teladan lain.

Kami yang penduduk Jawa Baratpun (belum jadi urbanis, euy!!!) merasa iri dan sangat ingin punya Gubernur yang berani berbuat nyata seperti ini!

 3.Pada jaman saya masih sekolah dulu (duluuuu….sekali! ;-) ), sudah begitu saja diterima bahwa angka minimum kelulusan buat mata pelajaran APAPUN ialah angka 6 (enam). Kalau sudah namanya ujian, kurang dari angka enam ya tidak lulus! Kalau ada enam mata pelajaran diujikan, maka jumlah nilai minimum kelulusan ialah enam kali enam alias tigapuluh enam. Titik.

Kalau ada mata pelajaran yang bernilai kurang dari enam, harus dikompensasi di mata pelajaran lain yang mendapat nilai lebih dari enam, agar nilai keseluruhannya tetap tigapuluh enam.

Angka empat, apalagi dibawahnya berarti menghanguskan segala prestasi yang lain. Karena tidak peduli berapapun angka-angka yang lain, angka empat menjamin keTIDAK lulusan ujian! (Yang ini terus terang saya agak “lupa-ingatan”! Tolong koreksi saya kalau memang salah, ya!)

Mulai kira-kira tahun 1967 (wah…., jadul banget, ya!!!?), ada fenomena baru.

Saat itu suasana masih pasca “pemberontakan G 30 S PKI” (ini adalah istilah yang dipompakan Orde Baru, rezim yang diciptakan Mayjen Soeharto yang naik ke pucuk pimpinan negara melalui “kudeta merangkak” a’la Jawa. Pelan-pelan tapi pasti dan…..KEJAM!).

Banyak para pelajar yang saking terhanyutnya dalam “perjuangan” menegakkan Orde Baru, lalu aktif demonstrasi dan rapat-rapat entah apa saja sehingga lupa tugas utamanya sebagai pelajar.

Yaitu belajar.

Dan baru kelabakan mempersiapkan diri buat menghadapi ujian negara pada minggu-minggu terakhir. Banyak yang pontang-panting ngebut belajar dengan menggandoli kawan-kawannya yang lebih pandai dan punya waktu buat mengajari ketinggalan mereka. Tapi jauh lebih banyak yang sehari-hari keliaran di jalan cari…..BOCORAN!

Ya, istilah “bocoran” soal ujian sebetulnya tumbuh bersamaan dengan kelahiran Orde Baru! Sebuah kenyataan yang tidak mungkin mau diakui oleh pelaku-pelakunya! (Eitsss…… ingat UU ITE Pasal 27, euy!!! Ha ha ha…., makanya kalo baca BLOG ini  harus janji nggak akan bilang-bilang, ya! Salah-salah jadi terkutuk “jalan mundur”, loe!)

Fenomena “baru” yang saya maksud ialah adanya perbuatan-perbuatan aneh, konyol dan lucu yang dilakukan oleh “oknum-oknum” yang terpaksa ikut ujian padahal sudah satu dua tahun lebih aktif bolos daripada belajar.

(He he he….., alasan “rapat” itu sangat ampuh deh buat bolos saat-saat itu! Untung pelajaran SMP masih gampang-gampang, sehingga bekas-bekas bolos tidak pernah nampak di nilai-nilai pelajaran saya. Setiap pembagian raport -yang waktu itu mah diterima sendiri, nggak perlu ortu karena kita-kita masih jujur dan bisa dipercaya, tidak seperti generasi pelajar jaman sekarang! He he he…-saya masih sering mendapat hadiah buku tulis dan pensil sebagai juara kelas!)

Apakah perbuatan-perbuatan aneh, konyol dan lucu itu?

Bermacam-macam.

Ada yang “kaul” naik sepeda motor bertelanjang-bulat tengah malam  dari Lembang ke Bandung! Bandung saat-saat itu kalau siang suhu-udaranya hanya sekitar 24-25 derajat di siang hari bolong. Jam 8 malam biasanya embun sudah turun  bahkan di daerah Jl. Dago-Merdeka. Bayangkan rasanya bertelanjang bulat naik motor dengan kencang (siapa berani pelan-pelan kalo telanjang bulat mah?!?) sepanjang Jl. Setiabudi, Siliwangi, Dago terus entah ke mana itu!

“Pelaku” kenekadan ini salah satunya yang paling bekend ialah alm. Gito Rollies alias Bangun Sugito yang di akhir hayatnya malah jadi pendakwah yang ta’at dan ‘bageur’. (Bung, anda bisa baca ini juga nggak dari ’sana’, euy?! Ha ha ha …)

Yang lain yang saya tahu ialah tetanggaku sendiri.

Kelakuan lain ialah saling menyemprotkan cat Pilox di antara mereka. Ke baju. Ke rambut. Ke segala hak milik yang sebetulnya masih didapat dan dibelikan oleh orang tua masing-masing!

Yang saya sebut “mereka’ dalam kasus itu ialah mereka-mereka yang lebih rajin bolos daripada sekolahnya. Kalau kebetulan sekolah juga, lebih sering “hadir” di luar kelas karena disetrap (Bld. “straff”, = hukuman) guru akibat tidak membuat pekerjaan rumah! Sehingga sudah sadar sendiri, kemungkinan untuk bisa lulus ujiannya juga hanya setipis kulit bawang. Atau lebih tipis lagi daripada kulit bawang!

Nah, bayangkan suka-hatinya “mereka” itu ketika ternyata kok bisa lulus?

Padahal dari lubuk hati yang paling dalam saya sendiri merasa bahwa meskipun tidak mau mengakui, melihat hasil-hasil ujian yang saya capai PASTI saya mendapt ekstra, bonus, hadiah atau apalah namanya alias “katrolan” paling tidak 20 % sampai 30 % dari nilai yang betul-betul hak saya.

Seperti amnesti massal, semua mendapat katrolan angka demi untuk “menyelamatkan generasi muda Orde Baru” supaya bisa lulus ujian negara sebanyak-banyaknya.

Iya, lah! Apa kata dunia, kalau Soekarno dijungkirkan melalui tangan-tangan mahasiswa dan pelajar, lalu tahun berikutnya langsung para anak-muda ini berbondong-bondong pada tidak lulus ujian negara?! Eyang Harto dan rezim baru mau taruh muka di mana, dong??!!!

Begitulah, maka pada jaman saya sekolah dulu, HANYA mereka yang betul-betul TAHU betapa tipis kemungkinan lulus ujian/ naik kelas saja yang perbuatannya jadi aneh-aneh pada waktu pengumuman kelulusan ujian negara!

Yang sudah betul-betul mempersiapkan diri mah, “jajauheun” dari kekonyolan itu. Gengsi, dong!

Lalu?

1. 1.Tapi “Boeng” Karno sudah lama tidak lagi dipanggil  sebagai “Boeng Karno”. Melainkan sebagai “Paduka Yang Mulia Presiden, Penyambung Lidah Rakyat” dst., dst. sampai kemudian satu persatu gelar, pangkat dan jabatannya dicopoti MPRS yang saat itu dipimpin oleh alm. Jenderal A.H. Nasution.

Sejak saat itu tidak ada lagi pejabat yang sudi dipanggil Bung. Wah, kalau sekarang malah bisa dituntut sebagai pencemaran nama baik, tuh, karena “Bung” itu adalah panggilan buat orang kebanyakan yang statusnya lebih rendah daripada yang manggil!

2.2. Setelah alm. Ali Sadikin, gelar bagi Gubernur Jakarta menjadi suatu keharusan, TANPA harus berprestasi luar-biasa seperti Bang Ali dahulu. Tjokropranolo pengganti Ali Sadikin langsung dianugerahi gelar “Babe Nolly” sewaktu baru saja diangkat jadi Gubernur. Padahal “prestasi”nya kemudian antara lain ialah membabati pohon-pohon rindang yang ditanami pemerintahan Ali Sadikin sebagai program pelestarian lingkungan dan peneduhan Jakarta yang ketika itu sudah panas bukan main! ( Suhu udara maksimum ialah …..31 derajat celcius!!!)

Maka sekarang , acara rutin yang selalu dilakukan oleh perwakilan Masyarakat Betawi (ehh…, masih Masyarakat Betawi nggak, ya?!) ialah memikirkan gelar untuk Gubernur berikut. Semua dibagi gelar. Pembagian…., pembagian….! He he he…… Obral gelar ini sudah merasuk sedemikian rupa, sehingga baru-baru ini ITB yang bergengsipun begitu ngotot ingin mempersembahkan gelar DR kepada Presiden SBY karena dianggap berhasil memajukan bidang …….IT!

Hua ha ha haa haaaa………

Bersama sebagian sobat yang lulusan ITB saya ikut tertawa terbahak-bahak mendengar proses kengototan pemberian gelar DR ini.

Bagusnya, ya….bagusnya, SBY berhasil “lulus” dalam ujian kekonyolan tingkat tinggi ini. Dengan caranya yang khas sangat santun beliau meminta supaya pemberian gelar ini “diundurkan waktunya” ke yang lebih tepat.

Diam-diam saya merasa para tokoh penguasa ITB yang ngotot memberikan gelar ini juga masih tidak mengerti “cara Jawa”nya SBY untuk bilang tidak.

Saya kok merasa yang beliau maksud dengan waktu yang lebih tepat yaitu kalau beliau sudah BETUL-BETUL BERJASA memajukan bidang IT di Indonesia, dong!  Beliau rasanya cukup ’sober’ sehingga tidak bakal mau dijadikan bahan tertawaan di belakang punggungnya sebagai pemegang gelar ‘obralan’ seperti yang sedang mewabah di Indonesia!

Iya, kan? Salah satu hobby kita ialah mentertawakan para pejabat di belakang punggung mereka. Sementara di hadapannya mah, he he he….”kita” berlomba-lomba untuk bermanis-manis ‘carmuk!

Naaahhh….terakhir.

3.3. Berita radio pagi ini menyiarkan Polisi Surabaya membubarkan para pelajar yang meluapkan kegembiraan mereka sesudah berhasil lulus ujian dengan cara bergerombol dan…menutup jalan umum!

Wadduh…., ini mah lebih aneh dari jaman dulunya saya itu, atuh! (duluuu….sekali!!!) Mengapa mereka sampai begitu gembira, sehingga lupa diri dan menyusahkan orang lain dengan menutup jalan umum segala?

Apakah mereka juga menyadari kemungkinan lulus ujian negara mereka itu memang “lebih tipis daripada kulit bawang”? “Mereka”nya itu sekarang kok banyak sekali, sampai mampu bergerombol dan menutup jalan segala???

Padahal nilai kelulusan terendah, dengar-dengar sih, sekarang ini jauh lebih rendah dari angka enam, ya?

Yahhh…, Khalil Ghibran dulu, duluuuu……sekali, lebih dulu daripada jadulnya saya sudah bilang, bahwa ” …mereka mempunyai dunianya sendiri. Yang tak mungkin kau jangkau meskipun hanya dalam mimpi…” atau semacam itulah!

Mungkinkah norma-norma sudah berubah?

Mungkinkah nilai-nilai sudah tidak sama lagi?

Jawabnya ada pada mereka sendiri.

Tapi susahnya, sekarang saya ‘kan masih hidup di dunia yang sama dengan “mereka’ ini?

Bagaimana, dong??!

Salam,

Iwan

AROGANSI INTELEKTUAL.

Selasa, 9 Juni 2009.  Sesuai janji maka jam 9 kurang sedikit pagi itu saya sudah sampai di rumah Pak Arifin. Guru yang sekarang menjadi salah satu sobat “baru” tempat curhat dan berdiskusi.

Satu jam pertama kami habiskan waktu mengobrol dengan berbagai topik. Begitu banyak dan beragamnya, tidak cukup untuk ditulis dalam sebuah blog.

Tapi obrolan yang paling menarik ketika topik berganti kepada masalah intelektualitas para intelektual kita. Saya biasa menyebutnya dengan istilah ’scholars’, untuk membedakan dengan saya dan saudara-saudara lain yang sama dengan saya, cuma selesai SMA dan tidak berkesempatan untuk mencicipi bangku perguruan tinggi.

Ini dimulai ketika Pak Arifin dengan sangat santun dan berhati-hati mengemukakan kekecewaannya atas kualitas milis yang saya co-moderatori. Milis ini awalnya memang dibuat Mas Irvin (owner) dengan cita-cita yang sangat utopis: Ajang buat saling berbagi, berdebat dan berdiskusi. Tidak ada pembatasan, free for all. Hanya untuk orang-orang yang sudah cukup matang dan dewasa, yang mampu menerima perbedaan dan tidak ber’kuping tipis’ sehingga tidak akan mudah tersinggung dan marah-marah kalau berbeda pendapat dengan lawan diskusi.

Setelah sangat bersemangat pada awalnya, kurang dari dua bulan saja Pak Arifin sudah merasa heran melihat kualitas diskusi dalam milis ini.

Lepas dari kualitas orang-orangnya yang sangat tinggi secara akademis maupun bisnis (beberapa malah sudah bermain di ajang internasional sebagai expert, ahli atau pakar!), beliau merasa heran atas kedangkalan cara berpikir dan terutama cara berpikir saudara-saudara saya ini.

Everything is for a reason, kata sobatku yang lain, Mbak Srisetiowati Seiful. Pucuk dicinta ulam tiba, kata orang-orang tua.

Sudah beberapa lama saya memang sangat ingin mendiskusikan hal ini dengan teman maupun saudara. Tetapi pengalaman membuktikan hal sesederhana inipun sudah tidak mudah untuk didiskusikan dengan siapapun.

Semakin tinggi pendidikan teman atau saudara yang saya ajak berbicara mengenai topik semacam ini, semakin besar kemungkinan sayalah yang akan dinasehati supaya “…jangan terlalu serius…”, ‘…jangan prejudice…”, “…santai sajalah….!”, bahkan “…jangan paranoia…”!

Wahhh…..!!!

Pada akhirnya kesimpulannya selalu sayalah yang “sakit”. Karena masalah yang ingin saya bicarakan itu jadi ada karena ditimbulkan oleh diri saya sendiri. Dunia tokh tetap berputar kalau Mas Iwan nggak mempermasalahkan hal ini. Orang-orang tokh tetap happy kalau Kang Iwan serius maupun santai bahkan cuekk…!

Begitu tabukah kita sekarang untuk berbicara yang sedikit dalam dan serius?

Saya minta Pak Arifin mengeluarkan seluruh apa yang beliau pikir. Oh ya, mungkin menarik untuk diketahui bahwa sobat dan guru saya ini sduah sepuh karena usianya menjelang 79. Sementara saya sendiri ‘baru’ 56 lebih sedikit. Beda k.l. satu generasi, lah! He he he…

Inilah pokok-pokok pengamatan beliau:

1. Jalan pikiran sobat-sobat anggota milis ini ternyata sangat dangkal sekali. Harapan beliau yang membubung tinggi ketika mendapat sambutan hangat ketika baru ikutan dan melihat kredibilitas para anggotanya, segera menguap ketika membaca posting dan diskusi para anggota ini.

2. Diskusi yang terjadi hanyalah menjadi ajang adu pintar. Menjadi perdebatan yang menang-menangan, bukan untuk mencari solusi. Bahkan tidak juga sekedar ‘agree to disagree’.

Apabila salah satu pihak merasa bahwa pihak yang lain ternyata lebih pintar mengemukakan argumen dan merasa dirinya ‘kalah’ dalam perdebatan, maka pihak yang ini langsung saja meninggalkan gelanggang dan membiarkan lawannya sibuk sendirian!

Masalah yang muncul dalam topik jadinya tidak pernah mendapatkan solusi.

3. Para anggota hanya sibuk memamerkan isi kepalanya saja. Sobat-sobat ini menjadi sekedar tukang copy & paste isi kepala orang lain. Merasa pandai kalau sudah mahir mengquote isi buku karangan orang lain.

Tidak dirasakan adanya hasil olah pikirannya sendiri.

Kami tertawa bersama menyadari bahwa ternyata kami mempunyai pikiran yang sama.

Saya kemukakan, sudah lama saya mempunyai kesan bahwa teman-teman Indonesia saya ini, semakin tinggi ilmu dan pendidikan akademis yang dialaminya, semakin menjadi komputerlah mereka.

Komputer adalah mesin yang dibuat untuk menyimpan data. Dengan diberikan program berisi rumus-rumus yang baku, komputer bisa mengolah data yang banyak itu dengan cepat untuk mendapatkan keluaran sesuai dengan kebutuhan kita. Semakin besar kapasitas hard disknya, semakin banyak data yang bisa disimpannya. Semakin tinggi kapasitas processornya, semakin cepat kemampuannya untuk mengolah data.

Tetapi komputer tetaplah komputer.

HANYA sejenis mesin yang tidak bisa berpikir sendiri. Tidak bisa mengolah data yang dipunyainya sesuai dengan keinginan dan pengetahuannya sendiri. Kalau tidak mempunyai program excell, meskipun bisa menampung datanya, komputer tidak mampu bahkan untuk sekedar menampilkan data Excell  tersebut. Apalagi memprosesnya!

Demikianlah saya lihat dan alami belakangan ini kalau berinteraksi dengan sobat-sobat dan saudara para ’scholar’ yang pandai-pandai ini.

Lebih jauh dari itu, saya temukan kuatnya syndrome ‘arogansi intelektual’ pada sobat-sobat dan saudara-saudara saya ini. Istilah ‘arogansi intelektual’ ini saya dapat dari dr. Maxwadi Maas, salah satu sobat yang jadi dokter spesialis penyakit dalam di RS Cinere Hospital. (Hayooo….tebak! Nama rumah sakit ini pake bahasa apa???)

Arogansi Intelektual ialah rasa superioritas akibat merasa diri ahli dalam bidangnya. Sehingga merasa orang lain yang tidak berpendidikan sama atau lebih tinggi itu lebih bodoh daripada dirinya. Sehingga tidak perlu didengar omongnya!

Sikap ini sungguh-sungguh parah akibatnya. Padahal para leluhur kita sudah jauh-jauh mengingatkan dengan pepatah-petitih a.l.: “Pakailah ilmu padi. Makin berisi kian runduk.”

Ketika sedang menulis posting ini, e-mail masuk dari seorang sobat, Mas Tommy Tamtomo. Dia memforward e-mail dari beberapa tokoh yang sebagian saya kenal juga. Isi e-mail-e-mail tersebut ialah kekesalan para tokoh ini akan sikap Menhan kita Juwono Sudarsono yang begitu ‘generous’ terhadap utusan Malaysia yaitu Panglima Tentara Diraja Malaysia, Jendral Tan Sri Abdul Azis bin Haji Zainal yang datang menghadap beliau untuk berbicara masalah Ambalat.

Buat saya sikap Menhan kita ini sepenuhnya contoh dan cerminan dari sikap Arogansi Intelektual yang sedang kita bicarakan ini.

Salah satu bukti kebenaran dr. Maxwadi Maas yang memperkenalkan saya kepada istilah ini: AROGANSI INTELEKTUAL. Bahkan DR. Juwono Sudarsono yang simpatik dan santun sekalipun ternyata tidak lepas dari sikap itu. Tanpa beliau sadari, tentunya.

Padahal di posisi setinggi beliau, taruhannya ialah dirugikannya kepentingan seluruh Bangsa dan Negara!

Eittss….., saya bisa terkena Pasal 27 ayat 3 UU ITE, nih! Bisa jadi senasib dengan Ibu Prita Mulyasari, nanti. (Makanya jangan bilang-bilang, ya?!!! He he he….)

Salam, IHS.

Pemberantasan korupsi, tidak diprogramkan?

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman yang mungkin berharga buat kita renungkan bersama.
 
1. Minggu pagi 31 Mei 2009  k.l. jam 07.15 saya mampir di ruko depan Cinere Mall.
 
Mau masuk ke parkiran, di kiosk parkir si petugas bilang: “Bayar langsung aja Rp. 2.000,-”
Waktu saya tanya, dia bilang: “Nggak perlu pake karcis.”
“Bagaimana kalau ditanya waktu keluar nanti?”
“Oh, nggak apa-apa Pak.
Memang hari ini nggak pake karcis, kok!”, katanya
 
OK.
 
Waktu memundurkan mobil seselesai dari ATM Mandiri, saya lihat seseorang mengaba di belakang mobil, dan mengambil posisi di sebelah kanan saya seperti galibnya petugas yang minta uang parkir.
 
Tidak saya gubris karena tokh saya sudah bayar di depan tadi.
 
Menuju pintu keluar, saya lihat seorang “petugas” melambaikan tangan memberhentikan mobil saya.
Dan minta sesuatu.
Saya bilang bahwa saya sudah bayar di depan.
OK, lalu dia minta karcis parkir.
Saya katakan saya tidak dikasih.
“Oh, ya. OK !”, katanya melepas saya pergi.
 
2. Beberapa hari y.l. saya ketemu dengan sepasang suami-isteri, sobat dari sejak hampir duapuluh tahun y.l.
 
Mereka menceritakan pengalaman menjual tanah di sebuah tempat dekat perbatasan Jakarta tapi masuk dalam propinsi lain.Tanah itu miliknya bersama beberapa sobat lain yang sebagian saya kenal juga. Dibeli pada tahun 90an dengan rencana semula untuk membuka usaha bersama yang waktu itu belum tahu apa.
 
Perjalanan waktu plus krisis ekonomi yang terjadi berulang-ulang menyebabkan rencana jadi batal dan tanah itupun dijual senilai NJOPnya (Rp. 7.000,- – Rp. 8.000,-an).
 
Mencapai sekitar 30 hektar, nilai keseluruhannya sekitar Rp. 2,4 milyar.
 
Yang menarik adalah pengalaman selama memproses jual-beli itu.
 
Pada waktu pengukuran tanah oleh petugas BPN/Badan Pertanahan Nasional, beberapa saksi menunjukkan batas-batas yang patok-patoknya sudah bergeser ke sana kemari secara demonstratif memakai…….golok (Sunda: bedog).
Setelah dicocokkan dengan gambar maka terlihat tanah yang semula berbentuk persegi, dengan batas-batas yang ditunjukkan para saksi dengan memakai golok (berdasarkan batas-batas yang sudah bergeser jauh itu) itu sekarang bentuknya jadi bundar!
 
Di sebagian tempat, tanah seluas 7.000 m2 jadi “hilang” menguap!
 
Di atas sebagian tanah yang lain telah berdiri sebuah bangunan……mesjid!
(“Nggak apa-apa kok. Ibu Icke tidak akan marah kalau dibangun mesjid di atas tanahnya”, begitu kata mereka.)
 
Tahu tanah akan dijual, mereka minta penggantian tanah mesjid (k.l. 100 m2)!
(Lho, padahal mereka ‘kan mendirikan mesjid di atas tanah orang!???
Tanpa ijin pulak!)
 
Sesudah disetujui, masih minta penggantian uang untuk “memindahkan” mesjid tersebut.
Alias membangun mesjid baru di atas tanah “penggantian” tersebut.
 
Masya Allah!
Apakah beribadah di dalam mesjid yang penuh hasil manipulasi dan pemalakan seperti ini akan berpahala, ya?
Meskipun si pemilik tanah yang sangat religius ini memberikan segalanya dengan penuh ikhlas dan ridho???
 
3. Dalam perjalanan proses jual-beli tersebut, suatu waktu datang seorang tamu ke rumah sobat-sobat ini.
 (Pasangan sobat ini tinggal di kompleks Megapolitan Cinere.)
Orang ini ngotot minta ketemu dengan Ibu Icke, yang saat itu sedang istirahat.
Mau bicarakan urusan jual-beli tanah tersebut.
Sobat inipun (yaitu Ibu Icke tadi) tidak mau menemui karena tidak merasa kenal, dan yang mengurus jual-beli itupun adalah keponakannya.
 
Beberapa waktu kemudian, baru diketahui bahwa Sang “Tamu” tersebut ternyata adalah Lurah setempat.
Dia datang menemui untuk minta bagian dari jual-beli tanah tersebut!
“Mobil yang dipakai Ibu juga tidak apa-apa, lah!” katanya,”Kan Ibu sudah dapat berapa milyar, tuh?!”
(Waktu datang ingin bertemu memang ada mobil Kijang terparkir di garasi!)
 
Masya Allah!
 
Sobat-sobat yth.,
 
saya berbagi cerita nyata ini untuk menggugah perhatian sobat-sobat sekalian, betapa sudah “membudayanya” penyakit korupsi di negara kita ini!
 
Dari mulai kelas tukang parkir di Ruko Cinere Raya, penduduk yang MENDIRIKAN MESJID DI TANAH MILIK ORANG LAIN TANPA IJIN SI EMPUNYA TANAH, sampai Lurah yang cukup terhormat dan digaji Pemerintah.
 
Semua tidak ada yang merasa bahwa semua “amal-perbuatan” ini adalah jalan mulus menuju ke neraka!
 
Dalam keadaan separah ini, mungkinkah ada program pemerintah yang semanis apapun kedengarannya akan bisa berjalan mulus?
 
Mustahil!!!
 
Parahnya, dalam suasana kampanye yang sudah dimulai sebelum waktunya ini,  TIDAK ADA SEORANGPUN pasangan kandidat Presiden yang tertarik dan menjanjikan pemberantasan korupsi sampai keakar-akarnya!
Sementara secara sistematis lewat kasus Antasari Azhar kita semua tahu bahwa upaya pembubaran KPK SUDAH MULAI BERJALAN!
 
Saya bertanya-tanya, mengapa SBY melupakan program yang dijadikan tema kampanyenya tahun 2004 lalu?
 
Yang membawanya menjadi Presiden terpilih.
 
Yang menyebabkan kemenangan gemilang Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif y.l.
 
Karena konsekuennya Pemerintahan SBY menjalankan program yang dijanjikannya itu!
Yaitu PEMBERANTASAN KORUPSI.
 
Saya tidak percaya Tim Megawati-Prabowo akan meneruskan program pemberantasan korupsi ini.
 
Selain “gengsi dong!” meneruskan program Presiden yang digantikan dan kebetulan memang tidak disukainya itu, sudah menjadi keniscayaan bahwa program penting pertama yang akan dijalankan pemimpin Indonesia YANG MANAPUN begitu mulai memimpin ialah menghapus peninggalan-peninggalan bagus dari para pendahulunya!
 
Di samping itu, Gerindra baru-baru ini sudah mengumumkan SEPULUH Menteri yang menjadi haknya dalam pemerintahan y.a.d kalau Megawati-Parbowo terpilih menggantikan SBY.
 
quote:
Kesepuluhan posisi menteri yang diberikan kepada Gerindra adalah menteri pertahanan, menteri koordinator perekonomian, menteri keuangan, menteri perikanan dan kelautan, menteri perdagangan, menteri perindustrian, menteri negara BUMN, menteri pertanian, menteri kehutanan serta menteri tenaga kerja dan transmigrasi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi di Jakarta, Sabtu (23/5).
unquote
 
Tidak kah ini ada kaitannya dengan PELESTARIAN BUDAYA KORUPSI?
 
Saya tidak mempertanyakan komitment JK-Wiranto akan pemberantasan korupsi ini.
Supaya posting ini tidak jadi lebih panjang dan membosankan lagi!
;-)
 
Kita renungkan jawaban dan jalan keluarnya, yok?!!!
 
Salam,
 
Iwan

 

__._,_.___

Hello world!

1 Juni 2009.

Hari yang indah untuk memulai sesuatu yang baru.

Bagi saya adalah dimulainya sebuah ‘blog’ atas namaku. Mengikuti saran Ani Surjatin, salah seorang sobat sejak masa SMA ’seabad yang lalu’.

Hello world!

Welcome to My World!

A Beautiful and Colorful One. That I love to share with all of you.